Sunday, November 28, 2004

ORACLE versus PURITAN

Apakah kau tetap akan memecahkannya,
jika aku tak memberitahu mu ?
(Oracle, ketika Neo bertanya bagaimana ia tahu vas itu akan pecah, Matrix)

Apakah kamu tetap memukuli pelacur itu atas nama Tuhan
Apakah kamu tetap menyambiti tiran itu atas nama rakyat
Apakah kamu tetap memaki si bodoh itu atas nama derajat
Apakah kamu tetap mensinisi segala hal atas nama harga diri

Apakah kamu tetap akan melakukan itu jika kamu besok tetap hidup ?
Atau kamu melakukan itu karena tahu kamu akan mati ?
Jika begitu, kamu sudah mati dan kamu bukan siapa-siapa.
Kamu telah gagal…!

(puritan biasanya identik dengan kaum agama fanatik yang termarjinalkan (terpinggirkan) oleh keadaan demi mempertahankan nilai-nilai ritualnya. Terpinggirkannya mereka karena tidak mampu menjawab tantangan zaman dan pada akhirnya mereka tersudut. Dalam keadaan tersudut ini mereka berbalik melawan kepungan demi membela diri atau menunjukan sikap perlawanannya terhadap kondisi. Atau untuk menunjukan eksistensi mereka. Yang menyedihkan adalah ketika perlawanan itu ditampakkannya secara emosional (vandalisme, sinisme) yang justru menambah buruk kondisi yang mereka alami. Aksi itu didorong oleh keharusan untuk melawan (menjawab) sementara jawaban belum ditemukan. Ibarat berkelahi di ruang gelap, orang tidak salah ikut kena pukul. Kultur puritan ini ternyata sudah sangat umum. Tidak hanya kaum agama saja bahkan untuk kaum-kaum intelektual seperti mahasiswa dan pergerakan politik yang jauh dari atribut agama. Demonstrasi, anarkisme-vandalis, hujatan, sinisme pun sudah menjadi atribut puritan intelek. Dan hasilnya bukan menuju ke arah pembebasan tetapi pembelengguan yang semakin ketat. Dibelenggu oleh masyarakat dan diri mereka sendiri. Puritan akan selalu terisolasi agar menyendiri (stand alone))
----------------------------------------------------------------------
"Awas, puritan bisa menimpa siapa saja tua dan muda !

Dinas Kontra-Intelijen Jalan Ketiga

Saturday, November 27, 2004

SCREAM ! and you lose..

Berteriak tidak akan mewujudkan keinginan mu.
Mengetahui akan mewujudkan

keinginan mu.
*(Bruce Willis, "Twelve Monkeys")*

..sorry, lupa englishnya.

NO TOMORROW

We fight like there is no tomorrow
We build like there is no tomorrow
We think like there is no tomorrow
We search like there is no tomorrow

While…

You kill like there is no tomorrow
You scream like there is no tomorrow
You threat like there is no tomorrow
You dream like there is no tomorrow
You torture like there is no tomorrow..

There is no tomorrow

It is only between you and us
Who will be the first to find it, will be the owner of it.

Peace will be the judge.
----------------------------------------------------------------
“Dunia belum berhenti berdialektika. Siapakah yang akan menemui jati dirinya?”

Sambutan & Selamat Datang dari para Agen Pembangunan Internasional kontra-dominasi

100 PERTEMPURAN (the art of life struggle)


"Aku tidak terperangkap karena aku tahu cara perangkap itu bekerja "
"Kamu terperangkap karena kamu tidak tahu

cara dia bekerja"

"Aku tahu dan kamu menunggu untuk tahu."
---------------------------------------------------------------------
“Jika kamu mengenal musuhmu dan dirimu maka kamu tidak perlu khawatir akan akhir dari seratus pertempuran” Sun Tzu : The Art of War.

Dinas Kontra-Intelijen Jalan Ketiga

SEATTLE DILEMMA

“Di Woodstock, orang-orang berkumpul untuk menikmati waktu, having a good time, namun hari ini di sini kami berkumpul untuk merubah dunia...”
(Komentar seorang peserta aksi-anti-WTO di Seattle, 5 Desember 1999)

Penghujung 1999 kemarin merupakan penghujung abad yang sangat indah. Ketika sebuah millennium baru datang sebuah harapan akan sebuah resistansi baru atas ‘tata dunia baru’ ini pun ditunjukan. Di Seattle, pada bulan Desember 1999 melawan WTO, di Washington DC, bulan April 2000 kemarin menghadapi kesombongan IMF.
Di Seattle, hampir 100.000 orang massa pemrotes tumpah di jalan-jalan kota. Pertempuran tiga hari tiga malam akhirnya terjadi, National Guard (tentara keamanan nasional AS) pun akhirnya turun. Berbagai cara dilakukan mulai dari mereka yang pasisifis dengan tidur di jalanan hingga anarkis Eugene yang menghancurkan setiap pojok-pojok ‘korporasi’, counter Mc Donald, Starbucks, Guess hingga Nike Town yang ada di kota itu tidak ada yang utuh pasca aksi.

Dua peristiwa tersebut merupakan sebuah festival. Sebuah perayaan akan sebuah makna perlawanan pada dunia.

Seattle dan Washington memang bukan tonggak sejarah. Ia tidak merepresentasikan apa-apa kecuali perlawanan terhadap neoliberalisme. Namun meski demikian, mereka telah hadir di sana sebagai harapan baru dalam usaha menolak ‘New World Order’ ini.

Lalu apa yang harus dilakukan setelah ini, tidak menutup kemungkinan ia hanya sebagai euphoria usang yang datang sebagai kerinduan atas radikalisme lama ? Entahlah, hanya seorang dalam ruang dan waktunya sendiri yang bisa menerjemahkan apa yang harus dilakukan ketika batu terakhir di Seattle di lempar dan asap gas air mata menghilang di Washington. Yang pasti kita telah melihat festival kecil dalam masyarakat pertunjukan ini. Dan kita dapat melihat posisi apa yang kita pegang sekarang dalam ‘pertunjukan’ ini dan tahu kita perlu menghancurkan ‘peran’ itu dan mulai untuk ‘hidup’.


Yah, itulah sebuah komentar tentang perlawanan terhadap dominasi dunia yang boleh saya bajak dari dunia meta-fisik internet ini. Ia menggambarkan suatu peristiwa yang monumental sebagai suatu tanda penentangan (resistensi) terhadap Globalisasi Barat. Masih tanda, dan belum menjadi suatu wujud penentangan. Ia hanya sebuah proklamasi atas kedaulatan baru. Kedaulatan yang menentang itu dan membuka mata Negara Barat bahwa apa yang diagendakannya telah berpeluang untuk ditandingi !

Lemparan batu itu hanyalah proklamasi (perayaan monumental) dan bukan 'wujud perlawanan'. Setelah diproklamirkannya suatu perlawanan maka Barat akan menetapkan agenda baru, membasmi cikal bakal perlawanan menjadi wujud. Seperti apakah wujud perlawanan terhadap globalisasi itu ? Hingga hari ini orang-orang masih mencoba mendefinisikan dari merumuskan berbagai teori, thesis, diskusi, organisasi massa, mengangkat poster, lontaran batu hingga mengawinkan botol dan bensin demi mendefinisikan ‘wujud perlawanan’.
Seperti dikatakan seseorang di atas “hanya seorang dalam ruang dan waktunya sendiri yang bisa menerjemahkan..”

Ternyata bukan seorang yang menyendiri itu yang bisa menerjemahkannya. Merekalah tuan rumah Globalisasi yang telah berhasil menemui ‘wujud perlawananan’ itu. Jika mereka tidak mengetahuinya tidak mungkin mereka bisa mengalahkan anda. Mereka sangat tahu dan anda tidak.

Mereka tahu lemparan batu itu hanya sepercikan pasir. Mereka tahu kobaran molotov itu hanya jentikan bara. Dan anda tidak.
Mereka tahu anda tidak sanggup menandingi. Mereka tahu anda dalam permainan mereka. Mereka tahu radikalisme anda adalah pancingan permainan mereka. Dan anda tidak.

Mereka tahu yang anda tidak tahu. Dan tidak akan membiarkan anda untuk tahu. Mereka memilihkan apa yang anda boleh tahu.
------------------------------------------------------------------------------
“Learn your enemy to fight. It’s all about learning and the cost will be worth it” Dare you ?

Related topics : filosofi penjajahan; following is bad !
Dinas Kontra-Intelijen Jalan Ketiga

WELCOME ZINESTER

Jika anda datang ke webblog ini dan anda adalah seorang pencinta zine atau zine producer. Atau anda penikmat isu-isu anti-globalisasi dan pemikir ekstra kritis maka tidak salah lagi anda telah terjun di tempat yang seirama.

Webblog ini kami persembahkan untuk anda (para zinester dan anti-globalisasi) yang kami kenal super kritis, lintas ideologis, lintas kelasis dan membakar batasis. (serba ‘is’ dong biar keren :)). Selamat datang di tapal batas. The world is waiting for us !

Dunia sudah membakar batasnya, kini giliran kita !

--------------------------------------------------------------------------------
warning : this blog contains extreme truth !


also see : http://titik-krisis.blogspot.com
Dinas Kontra-Intelijen Jalan Ketiga