ORACLE versus PURITAN
Apakah kau tetap akan memecahkannya,
jika aku tak memberitahu mu ?
(Oracle, ketika Neo bertanya bagaimana ia tahu vas itu akan pecah, Matrix)
Apakah kamu tetap memukuli pelacur itu atas nama Tuhan
Apakah kamu tetap menyambiti tiran itu atas nama rakyat
Apakah kamu tetap memaki si bodoh itu atas nama derajat
Apakah kamu tetap mensinisi segala hal atas nama harga diri
Apakah kamu tetap akan melakukan itu jika kamu besok tetap hidup ?
Atau kamu melakukan itu karena tahu kamu akan mati ?
Jika begitu, kamu sudah mati dan kamu bukan siapa-siapa.
Kamu telah gagal…!
(puritan biasanya identik dengan kaum agama fanatik yang termarjinalkan (terpinggirkan) oleh keadaan demi mempertahankan nilai-nilai ritualnya. Terpinggirkannya mereka karena tidak mampu menjawab tantangan zaman dan pada akhirnya mereka tersudut. Dalam keadaan tersudut ini mereka berbalik melawan kepungan demi membela diri atau menunjukan sikap perlawanannya terhadap kondisi. Atau untuk menunjukan eksistensi mereka. Yang menyedihkan adalah ketika perlawanan itu ditampakkannya secara emosional (vandalisme, sinisme) yang justru menambah buruk kondisi yang mereka alami. Aksi itu didorong oleh keharusan untuk melawan (menjawab) sementara jawaban belum ditemukan. Ibarat berkelahi di ruang gelap, orang tidak salah ikut kena pukul. Kultur puritan ini ternyata sudah sangat umum. Tidak hanya kaum agama saja bahkan untuk kaum-kaum intelektual seperti mahasiswa dan pergerakan politik yang jauh dari atribut agama. Demonstrasi, anarkisme-vandalis, hujatan, sinisme pun sudah menjadi atribut puritan intelek. Dan hasilnya bukan menuju ke arah pembebasan tetapi pembelengguan yang semakin ketat. Dibelenggu oleh masyarakat dan diri mereka sendiri. Puritan akan selalu terisolasi agar menyendiri (stand alone))
----------------------------------------------------------------------
"Awas, puritan bisa menimpa siapa saja tua dan muda !
Dinas Kontra-Intelijen Jalan Ketiga
jika aku tak memberitahu mu ?
(Oracle, ketika Neo bertanya bagaimana ia tahu vas itu akan pecah, Matrix)
Apakah kamu tetap memukuli pelacur itu atas nama Tuhan
Apakah kamu tetap menyambiti tiran itu atas nama rakyat
Apakah kamu tetap memaki si bodoh itu atas nama derajat
Apakah kamu tetap mensinisi segala hal atas nama harga diri
Apakah kamu tetap akan melakukan itu jika kamu besok tetap hidup ?
Atau kamu melakukan itu karena tahu kamu akan mati ?
Jika begitu, kamu sudah mati dan kamu bukan siapa-siapa.
Kamu telah gagal…!
(puritan biasanya identik dengan kaum agama fanatik yang termarjinalkan (terpinggirkan) oleh keadaan demi mempertahankan nilai-nilai ritualnya. Terpinggirkannya mereka karena tidak mampu menjawab tantangan zaman dan pada akhirnya mereka tersudut. Dalam keadaan tersudut ini mereka berbalik melawan kepungan demi membela diri atau menunjukan sikap perlawanannya terhadap kondisi. Atau untuk menunjukan eksistensi mereka. Yang menyedihkan adalah ketika perlawanan itu ditampakkannya secara emosional (vandalisme, sinisme) yang justru menambah buruk kondisi yang mereka alami. Aksi itu didorong oleh keharusan untuk melawan (menjawab) sementara jawaban belum ditemukan. Ibarat berkelahi di ruang gelap, orang tidak salah ikut kena pukul. Kultur puritan ini ternyata sudah sangat umum. Tidak hanya kaum agama saja bahkan untuk kaum-kaum intelektual seperti mahasiswa dan pergerakan politik yang jauh dari atribut agama. Demonstrasi, anarkisme-vandalis, hujatan, sinisme pun sudah menjadi atribut puritan intelek. Dan hasilnya bukan menuju ke arah pembebasan tetapi pembelengguan yang semakin ketat. Dibelenggu oleh masyarakat dan diri mereka sendiri. Puritan akan selalu terisolasi agar menyendiri (stand alone))
----------------------------------------------------------------------
"Awas, puritan bisa menimpa siapa saja tua dan muda !
Dinas Kontra-Intelijen Jalan Ketiga

